Hari-Hari

Mohon maaf, hanya sekedar menulis. Puisi ini dibuat pada ulangan harian Bahasa Indonesia kemarin. Jadinya, menurutku di pos aja di sini. (Kalo jelek nggak usah dibaca).

Pic. from [here]
Angin bergegas melewati rinai hujan
Mengguyur bagai pancaran pelangi lewat angan
Tersimpan dalam tiap-tiap bait pertama
Imajinasi hari kan terus tersimpan
di dalam hati, lalu terungkap dengan mengekspresikan ceriamu!

Caffe latte dan setangkup roti
Seharusnya kau menyimpannya dalam hati
Uap itu yang memancarkan pelangi
Yang mengisi segala nominasi ini

---------------------------------------------------------------------------------------------

I Believe

#nowplaying: Aimi Terakawa - "We're The Stars"

Mengapa aku menyukai mereka? Disetiap malamnya aku memandangi mereka penuh perhatian kepadanya. Bintang yang berjejer bergandeng satu sama lain. Saat itu, mereka akan kuat kembali setelah matahari mulai meredup dan tenggelam di barat yang diselimuti oleh kegelapan yang sunyi, dingin, dan beku ini. Bulan, aku tidak menyukaimu. Kau hanya dingin dan beku tak istimewa, hanya bersinar redup melewati sela-sela bintang bersinar terang. Kini, kau hanya menghapus sebagian kegelapan, sisanya pecahan bewarna hitam kelam yang tak sepenuhnya tersapu bersih oleh cahayamu. Kau hanya benda mati yang selalu-setiap harinya bergantung pada pancaran sinar matahari. Dia yang selalu sempurna cahayanya selalu baik hati kepadamu. Lalu, kau tidak membalas kebaikannya, hanya memandang remeh kepada matahari. Aku tak menyukaimu.

Adakalanya aku tidak menyukai salah satu bintang diantara mereka. Ternyata di salah satu bintang yang bergandeng menjadi kuat itu, ternyata ada yang belum sempurna tegap berdiri. Mereka selalu berlari di angkasa menjelajahi seluruh galaksi, mengikuti lintasannya dan kembali terurai. Kita lihat saja pada jejeran bintang yang sedang balapan mengelilingi galaksi pada bima sakti. Saat di lintasan itu, bintang seperti bewarna merah darah itu tergelincir di putaran galaksi bima sakti itu. Kau jatuh tak ada gravitasi yang membuatmu pergi ke permukaan suatu tempat, jatuh seperti komet dan tak ada suatu yang terjadi. Kau menjadi tidak berguna.

Bintang yang jatuh menjadi hitam tak berarti itu aku tidak menyukainya. Lebih baik, aku harus mempercayai bintang yang berjejer sana. Gemerlap cahayanya yang berkedap-kedip membuat mataku seperti tertutup-terbuka-tertutup-dan terbuka seterusnya. Sudah lama aku merindukan mereka untuk datang mengunjungiku lalu menyapa kepadaku di suatu malam tanpa sinar dewi rembulan yang dingin dan kaku.

Dan ia pun berkata kepadaku:

Kami adalah bintang yang senantiasa bersinar lebih terang dari cahaya diantara kegelapan yang sunyi ini. Bergandengan tangan bersama yang terikat oleh tali DNA ini akan menjadi tali yang terikat kuat. Bulan yang ada ditengah-tengah kami akan kami bantu dengan sinar kami. Dia akan menjadi lebih kuat daripada kami. Kami akan memanggil satu sama lain dan melangkah maju terus kedepan untuk mencari tempat yang akan kami kuasai, walaupun alur untuk kesana tak ada tanda-tanda. Bulan akan terus berharap dan percaya kepada kami bahwa kami pasti akan kesana dan berada disampingnya.


Aku percaya. Kata hati dewi rembulan.

Setidaknya, aku harus menyayangi dia. Aku harus menyemangati dan membantu para bintang untuk menyinari bulan yang hampir mati tanpa sinarnya yang redup sebelum bergantinya sang surya di pagi hari, lalu kegelapan itu diserap oleh cahaya yang bersinar terang benderang. Mereka yang telah menerangiku sekarang pada malam dingin ini. Bulan, kau sekarang tidak sendiri lagi. Mereka membutuhkan kau dan kau membutuhkan mereka juga. Kini, aku telah mempercayaimu, walaupun kau bergantung pada mereka dan sang surya. Bintang yang memancarkan sinarnya sendiri sebelumnya telahku percayai. Bintang yang hangat dan paling terang.

Semuanya, terima kasih. Terima kasih Tuhan. Bukan hanya para bintang yang menjadi kuat, mentari dan rembulan pun ikut kuat setelah mereka bertiga akan bersatu di hari kemudian. Sendiri-sendiri itu lemah tanpa adanya kerja keras diantara mereka bertiga, begitupun juga manusia. Kalian masih mengingatnya kan, semboyan negara kita ...

Bhineka Tunggal Ika!

Bintang bagai dewa bintang, sedangkan bulan bagai dewi rembulan. Mereka berdua berada diantara kedudukan yang tertinggi. Saat harinya tiba, mereka akan senantiasa melaksanakan pesta hari pernikahan yang indah, dihiasi oleh para komet yang memancarkan sinar bagai kembang api yang terbang bagai roket dan melepaskannya bagai bom di udara. Secepatnya mereka membuat sebuah tulisan dari sisa-sisa gas mereka yang terbuang, bertuliskan …

~I Love You!

Dibawahnya, manusia melihat mereka sedang bergembira menikmatinya. Kita juga menikmati mereka yang ada di atas sana walaupun kita para manusia tidak diundang olehnya dengan sepucuk surat melayang dibantu untuk terbang oleh angin syahdu.

Apa matamu melihatnya juga?


But let there be spaces in your togetherness and let the winds of the heavens dance between you. Love one another but make not a bond of love: let it rather be a moving sea between the shores of your souls.

Pic. from [here]

Last Smile

#nowplaying: Yanagi Nagi x Maeda Jun - "Last Smile"

Pic. from [here]
Kau terbaring di bawah selang transparan dengan segumpal darah di dalamnya, mengalir dengan air bening di dalamnya dengan jarum yang menancap di tangan kananmu. Apakah kau sudah mulai membaik? Melihatmu begitu senang selalu saat di rumah sakit. Aku merasa senang juga, walaupun kau terkena penyakit virus berbahaya yang dapat membuatmu menjadi tiada dan meninggalkan dunia yang telah kau duduki sekarang. Kau tak lupa meninggalkan senyuman itu kepadaku, seakan di dalam hatimu tidak ada beban yang menindis rasa ini oleh penyakit itu, kau merasa bebas walaupun kau sedang dihadapi permasalahan hidup, selalu ceria sepanjang masa dan menghapus sedih dan haru padamu.

Kau tahu? Di luar negeri sana, saat ada kerabatnya yang sedang sakit dan dirawat di rumah sakit, mereka akan membawakan sekuntum bunga yang bewarna-warni, cerah, dan indah untuk dia. Mereka memberikan harapan dan do'a kepada dia akan lekas sembuh di hari esok. Sekarang, aku menirunya. Membawa sekuntum atau bahkan sebuket bunga yang serupa buatmu. Pesan dibalik dari sekuntum bunga tulip ini adalah aku sangat mengharapkan kesediaan kamu untuk menjadi pasangan hidupku selamanya. Suatu kelak nanti kau masih mengolah senyum ceria itu kepadaku, bahwa kau selalu siap dalam menghadapi kenyataan. Apakah kau baru mengetahuinya?

Bunga tulip, dia akan mekar secara perlahan. Impian itu sekarang ada di tengah peluh kita. Sudah lama kita bersama dari dulu sampai sekarang, dan sekarang aku telah mengungkapkannya kepadamu secara langsung. Lalu, kau terkejut dan dengan senang hati menerimaku untuk menjadi pasangan yang terbaik buatmu. Sakitmu membuatku menjadi rindu untuk persiapan menjadi pasangan yang lebih baik. Aku sudah tidak sabar lagi. Semoga kita masih ceria di titik puncak pohon cemara yang tinggi di hari natal yang mulai turun setitik salju dan bintang yang ada di sana kau dan aku akan menggapainya.
_________________________________________________________________

Saat aku menjengukmu di kamar tidurmu yang tidak selamanya kau tinggal, saat kau dan aku hampir mendekati dan meraih bintang itu, kau menghilang tanpa jejak. Kau mendapat senyuman itu dari celah-celah pintu yang sedikit terbuka, kau membukanya lebar-lebar, seketika gemerlap cahaya itu menarik tanganmu untuk dibawa ke cahaya yang lebih cerah daripada ini. Sebuah taman dengan hamparan bunga yang indah serta benda lainnya ada di genggamanmu. Mungkin dunia itu belum kau dapatkan, tapi suatu saat kau akan mendapatkannya. 

Bunga tulip itu akan tertutup kembali. Menguraikan warnanya hingga menjadi pudar terbawa oleh angin dan layu mengering disaat kau telah meninggalkannya sendirian. Apakah kau sendirian juga di sana? Aku akan menyusulmu suatu saat nanti. Bangun di pagi hari di alam ke-3. Di hari kelak, aku akan mendapatkan kunci itu dengan sekuat tenaga untuk membuka pintu gebang yang besar suci, menarik segenggam tanganku tuk dibawa ke taman dengan bunga-bunga yang indah. Kita berbaring dan berlarian menghias canda-tawa di sana. Aku akan menjadi pendamping hidupmu di sana, menemani di setiap langkah jejak untuk mencapai sebuah kebahagiaan di ujung sana. Sebuah taman yang teramat sangat indah sudah disediakan oleh Tuhan yang sudah lama ada sebelum kita lahir. 

Kau tertidur tak bernyawa, terbaring kaku di sana.

Senyumanmu telah mengendap di hatiku. Hatiku yang dulu gelap gulita, kini menjadi hati yang putih bersih. Aku tidak bisa melakukan apa-apa selain menerima kepergianmu. Aku hanya bisa berharap dan berdo'a agar kau dan aku akan bertemu di persimpangan jalan menuju tempat yang penuh dengan hamparan bunga yang indah. Semoga kau tenang di sana ...

Ini sebuah akhir senyum baginya, dia telah memberikanku senyuman yang membuatku teringat selalu. Akhir malam yang menyedihkan dan sedikit senyuman ini menandakan dia tertidur pulas selamanya di malam yang menangkap sepi khusyuk ini.

...

Udara sejuk

Sepi khusyuk

...


Cuma menangkap sepi


...


Angin mengembara

Menghapus jelaga jiwa


        - Oleh: Piek Ardijanto Soeprijadi - Di Baturaden

Last night, good night ...

Selamat malam sayang, semoga mimpi indah ...